Allahuakbar.... Allahuakbar.....Allahuakbar....(gema takbir),
saat malam takbiran berkumandang bagi anak yang jauh dari orang tuanya atau
sering disebut anak rantau adalah salah satu momen paling mengiris hati, dimana
diri ingin bertemu orang tua dan keluarga namun keadaan yang membuat hal itu
tidak bisa terjadi, bahkan air mata kadang menetes saat mendengar suara takbir
sambil teringat orang tua meski sudah teleponan tapi momen saat bersama memang
tidak bisa tergantikan dan sangat dikangenin saat lebaran idul fitri tiba.
Saat keesokan hari
solat idul fitripun air mata kembali menetes teringat saat dulu masih kecil
lebaran bersama di rumah dan silaturahim berkunjung ke rumah kerabat
bersama-sama keluarga. Hanya doa saja yang mampu menembus air mata kesedihan
saat tidak bisa bersama keluarga.
Kumpul bersama teman
kampung juga salah saat yang membuat nostalgia tersebut bertambah-tambah. Kadang
teman yang domisili diperantauan berkata “lebaran sebentar lagi” sudah membuat
hati bergetar..
Mendengar ucapan teman tersebut
rasanya resah sekaligus galau. Keresahan karena kamu tidak bisa pulang kampung
sejatinya sudah menghantui jauh sebelum lebaran bahkan saat puasa baru tiba. .
Anak-anak peranatauan
sejatinya ingin pulang tapi apa daya kehendak hati tidak sampai karena suatu
hal. Apalagi saat menelpon orang tua dan berkata:
“Kamu lebaran ini tidak
pulang kampung lagi, nak? Tidak kangen rumah?
Bahkan pertanyaan
seperti demikian silih berganti tidak hanya dari keluargamu tapi juga
teman-temanmu dulu. Memang awalnya terdengar tidak apa-apa, tapi semakin lama
pertanyaan tersebut makin mengusikmu. Bukan tersinggung, tetapi siapa sih anak
yang tidak ingin pulang?.
Beberapa ahr mendekati
lebaran teman se-kos/kontrakan mulai sepi dan mudik ke kampung halaman mereka
hal ini menambah hening dan sepi suasana.
Hal yang membuatmu
semakin sedih selain tidak bisa bertemu keluarga adalah ketika tak ada teman
untuk menghadapi kesendirianmu di tanah rantau yang keras. Suasana kontrakan
yang mendadak sunyi sepi, terpaksa kamu mesti sendiri saat lebaran, dan
hari-hari yang kamu jalani sebagai penyendiri meratap di bawah atap kontrakan.
Lebaranpun tida semua
kegalauan yang berkecamuk di dalam hati selama inipun pecah, rasanya ingin
tidur seharian saja daripada terus-menerus sedih saat ingat keluarga di rumah.
Puncaknya yaitu saat solat
idul fitri tiba. Hari raya umat islam yang biasanya kamu mulai dengan shalat
ied bersama di masjid dengan memakai baju baru, terpaksa kamu jalani sendiri. Saat
bahagia bertemu sepupu-sepupu dari jauh hanya dapat kamu angan-angan dalam pikiran.
Apalagi jika terimakan
masakan opor ketupat buatan ibua tercinta atau nenek, meskipun makanan di
perantauan sama-sama makan opor tetapi rasa mulut tidak kuasa untuk memakan dan
rasanya tidak enak.
Video Call Keluarga di
rumah jelas satu-satunya cara menghempaskan sejuta kerinduan, mendengar suara dan
meihat wajah ayah dan ibu saja bikin hati teriris.
Ya, tak bisa disangkal
memanglah sangat menyedihkan tak bisa berlebaran di kampung halaman. Tapi
setidaknya, hidup selalu menawarkan pilihan. Berlebaran sendiri sejatinya bisa
kamu jadikan pelajaran untuk dirimu sendiri lebih dewasa dan memahami arti saat
bersama.
Semoga dengan hadirnya
artikel ini bisa sedikit menghibur para perantau baik dinegri sendiri maupun di
negri orang yang tidak bisa mudik saat lebaran tiba… sebisanya saat lebaran
tetap bahagia ya guys dengan menebar senyum maka orang lain kemungkinan juga
bahagia, setidaknya hilangkan murammu dengan berkumpul dengan beberapa teman
yang tersisa di kost-an atau kontrakan....! terimakasih.....



ConversionConversion EmoticonEmoticon